Digitalisasi Pekerjaan Solusi Untuk “New Normal”?

  • 6 min read
  • Jun 09, 2020
Digitalisasi Era
Hosting Unlimited Indonesia

Digitalisasi. New Normal, adalah istillah yang akhir-akhir ini sering mewarnai kehidupan kita. Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa new normal adalah kembali normal pasca Pandemi Covid-19. Kenyataannya tidak demikian. Bahkan sama dan cenderung lebih “parah”. Parah dalam artian penanganan. Masih banyak daerah di Indonesia yang menerapkan karantina di pintu masuk menuju wilayah mereka.

Kondisi New Normal

New Normal Digitalisasi
Kondisi New Normal yang masih sama sumber : foto sendiri

Ya, itu adalah istillah yang lebih tepat. Ketimbang menggunakan kata lockdown untuk pencegahan penularan virus seperti itu. Selain itu, banyak hal yang pada masa pandemi masih berlanjut. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Sosial) masih berlanjut, meskipun tidak seperti awal-awal penyebaran virus Corona. WFH (Work From Home), juga masih berlanjut di banyak perusahaan. Wajib masker ketika pergi kemana-mana

Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kita. Apakah benar bahwa ini adalah new normal ?.

Banyak para peneliti khususnya di bidang kesehatan yang tidak setuju dengan istillah ini. Ini adalah normal yang seharusnya. Beginilah seharusnya masyarakat. Menjaga hidup bersih, peka terhadap lingkungan dan orang lain. Ini adalah pernyataan sindiran bagi kita, yang dulu sebelum pandemi, “hidup tidak normal”.

Kita tidak akan membahas kehidupan sosial kebersihan di sini. Kita akan bicara tentang poin bagaimana pandemi ini mengubah hidup menjadi serba digital. Atau apa-apa serba online sampai proses wisuda dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) pun online.

Coba kita ingat kartun spongebob, di saat episodenya yang berjudul “Not Normal” dari season 6. Kita akan ingat bagaimana spongebob menjadi normal dengan hanya bekerja di depan komputer. Hal tersebutlah yang dulu dan sedang kita alami, saat ini. Kita banyak bekerja di depan komputer atau menggunakan media digital.

Dengan teknologi bernama internet, kita tetap dapat bekerja seperti biasa. Bahkan, pemain-pemain besar seperti Facebook, Google, Microsoft, dan lain-lain tetap meraih untung besar walaupun saat pandemi. Contoh paling nyata ada pada CEO (Chief Executive Officer) Zoom, Eric Yuan.

Lalu apakah kehidupan digital ini sudah mulai bisa diterapkan di negeri kita ?.

Pengertian Digitalisasi Informasi

Digital berasal dari kata digitus, Yunani, yang berarti jari jemari. Jumlah jari jemari yakni 10 menggambarkan 2 angka pembentukkan digital yakni 0 dan 1. 10 terdiri dari 2 digit angka yakni 1 dan 0. 2 angka ini dalam sistem digital dikenal sebagai bilangan biner.

Pengertian dari kata digital mempermudah kita untuk memahami apa itu digitalisasi. Jadi digitalisasi informasi adalah proses adaptasi informasi agar menjadi bentuk digital yakni 0 dan 1. Ketika informasi tersebut berhasil menjadi format digital, maka informasi menjadi lebih mudah diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan.  Informasi tidak hanya berbentuk teks, namun juga dapat berbentuk audio, video, animasi, dan lain-lain.

Digitalisasi informasi memberikan gap besar antara media online dengan media konvensional atau cetak.  Dari islamic communication journal vol 01 no 01, terdapat 6 unsur yang membedakan keduanya. Berikut adalah perbedaan keenam aspek tersebut;

UnsurMedia CetakMedia Online
Pembatasan Panjang Naskah Panjang naskah telah dibatasi Tidak ada pembatasan naskah
Prosuder Naskah Naskah harus di ACC oleh redaksi sebelum dipublishSama aja, namun tidak semua media mengharuskan ACC terlebih dahulu
Editing Tidak bisa diedit jika sudah dicetak Masih bisa diedit meskipun sudah dipublish
Tugas desainer atau layouterDesainer atau layouter harus tetap bekerja pada tiap edisiBekerja sekali yakni di awal pembuatan web. Selanjutnya adalah maintenance
Jadwal terbitBerkala, bisa harian, mingguan, bulanan, dan sebagainyaKapan saja
Distribusi Harus melewati proses distribusi sebelum dibaca oleh umumLangsung dapat dibaca oleh umum

Tabel perbedaan di atas menjelaskan gap besar mengenai keuntungan digitalisasi informasi. Satu-satunya kekurangan dari digitalisasi informasi adalah informasi yang salah, atau lebih parah, menyesatkan. Sama saja seperti media cetak.

Digitalisasi informasi, mengambil peran besar dalam pergeseran pekerjaan. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang dulu kita harus ke kantor, menjadi tidak harus ke kantor. Pekerjaan-pekerjaan inilah yang banyak kita temui.

Era Digitalisasi saat Pandemi Covid-19

Sebenarnya, jauh sebelum Covid-19, kita telah mengalami era digitalisasi. Mulai dari musik digital, timbangan digital, mesin ketik digital, jam digital, dan lain-lain. Tetapi era digitalisasi makin terasa saat pandemi Covid-19. Suatu masa yang akan kita sebagai semua serba online.

Meeting online

Ya, meeting online bukanlah sesuatu yang baru. Namun, ini menjadi seperti baru ketika hampir semua perusahaan dan instansi pemerintahan menerapkannya. Banyak aplikasi-aplikasi yang mendukung proses ini. Seperti Jitsi Meets, GoToMeeting, Zoom, FaceTime, Cisco WebEx, Google Hangout Meet, dan lain-lain.

Sekolah online

Sama seperti meeting online, sekolah menjadi hal biasa saat ini. Anak-anak diberikan tugas melalui google classroom. Tetap melakukan tatap muka, dengan aplikasi meeting online. Mengirimkan tugas melalui email, pesan WhatsApp, dan lain-lain. Tentu tidak semua sekolah bisa menerapkan sistem online seperti ini.

Faktor geografi keadaan jaringan di beberapa wilayah Indonesia, membuat akses internet mereka sangat lamban. Biaya untuk mendapatkan sebuah paket internet pun, sama harganya dengan makan 3 hari.

Kuliah online

Bukan hanya sekolah saja, perguruan tinggipun mulai menerapkan online system untuk semua aktivitas kampus. Bahkan, admin sedang menjalankan proses KKN (Kuliah Kerja Nyata) secara online, melalui media Facebook. Untuk kamu yang penasaran proker (program kerja) saya, silahkan di grup Facebook : Kelompok 1.A.3 KKN UAD: Edukasi AHOX (Anti Hoax).

Kita juga sering menemukan video-video unik, bagaimana kampus tetap menggelar acara wisuda. Ada yang melalui aplikasi teleconference, dan ada yang menggunakan robot seperti di Jepang.

Bekerja Virtual

Meskipun terdapat beberapa masalah dalam prosesnya, namun banyak perusahaan yang sadar akan suatu fakta. Mereka sadar, bahwa mereka masih bisa mempertahankan operasi, dan staf masih bekerja secara produktif.

Dari sebuah Webinar membahas bagaimana New Normal bagi pekerja. CIO (Chief Information Officer) Chris Bedi dan ServiceNow’s Chief Talent Officer, Pat Wadors, mengatakan bahwa karyawannya akan tetap terlibat kerja secara virtual onboarding. Semua proses akan didukung teknologi memadai.

Kesatuan antara kehidupan dan bekerja yang hancur, dapat diperbaiki dengan bantuan teknologi. Wadors juga mengatakan bahwa karyawan tidak menginginkan pre-Covid-19 workplace.

Bedi dan CIO lainnya, mengatakan perlunya kolaborasi kuat antara CIO, kepala SDM, dan kepala fasilitas lain. Kolaborasi dilakukan agar dapat men-digitalisasikan alur kerja yang ada. Perlu adanya proses yang baru serta efektif terukur, dengan tetap berfokus pada otomatisasi.

Wadors, juga mengakui bahwa digitalisasi pekerjaan memerlukan waktu. 21 hari adalah waktu diperlukan untuk menciptakan kebiasaan, dan penyesuaian bagi orang-orang yang enggan bekerja jarak jauh.

Salah satu contoh negara yang sukses menerapkan digitalisasi informasi saat pandemi, adalah India. Melalui inisiatif Digital India dan Smart Cities, pemerintah secara efektif mampu menanggapi situasi yang dinamis dan tepat dalam langkah-langkah bantuan. Memanfaatkan JAM (Jan Dhan-Aadhaar-mobile), pemerintah dapat memantau, melacak dan menahan penyebaran virus.

Memetakan hotspot, dan memberi informasi serta layanan pada warga.

Aplikasi Aarogya Setu, merupakan contohnya. Digunakan untuk melakukan pelacakan kontak dan pelaporan, dengan koneksi bluetooth dan data lokasi ponsel pengguna. Rincian info kemudian dirujuk silang dengan database kasus infeksi yang diketahui.  Pusat Komando Pemerintah Negara Bagian dan dashboard Covid-19 adalah mereka yang bertanggung jawab untuk pengawasan.

Mereka memantau pergerakan orang dan menegakkan disiplin dalam zona penahanan menggunakan drone. Ini adalah satu bentuk kerja pemerintah dengan memanfaatkan media digital. E-Government namanya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ?.

Indonesia juga menerapkan e-government dengan cukup baik. Mendirikan website, mobile application, chatbot WhatsApp yang mampu memberikan informasi real time Covid-19 kepada warga.

Pekerjaan pekerjaan online terbaik

Adanya pandemi ini memberikan kita cakrawala baru tentang kerja tidak harus di kantor. Bahkan kerja di rumah dapat memberikan hasil yang sama atau lebih ketimbang kerja di kantor. Bermodalkan internet, kamu dapat menjadi superstars dunia maya dan nyata. Admin akan memberikan list pekerjaan online terbaik yang bisa kamu geluti.

Pekerjaan ini tentunya tidak hanya cocok semasa pandemi seperti ini, namun juga ketika tidak ada pandemi.

Ini adalah listnya;

Digitalisasi Pekerjaan
Pekerjaan online terbaik sumber : lickeys.ru

Web Developer

Kamu dapat memulai karir sebagai web developer tanpa harus belajar koding. Kamu bisa gunakan platform gratis seperti CMS (Content Management Service). Atau yang lebih familiar, WordPress, Joomla, Drupal dan lain-lain. Pengaturan konten yang mudah, dan easy going, tinggal bermain bongkar pasang plugin dan templates.

Website-website besar juga banyak menggunakan CMS, contoh dari jenis WordPress, yakni duniailkom.com. Selain itu kamu juga dapat menggunakan Wix.com.

Untuk membeli domain dan hosting kamu dapat mencarinya di Niagahoster. Link Klik Di Sini

Seorang blogger, juga dapat dimasukan dalam kategori ini.

Youtuber

Seperti yang kita lihat, banyak youtuber yang sukses, meskipun hanya membuat konten yang receh. Seperti mukbang, video reaksi, dan sejenis itu. Akhir-akhir juga banyak sekali konten konten Youtuber berbau giveaway. Tentu kalian para netizen akan hafal kalimat ini “Be Yourself and never surrender”

Content Creator

Content Creator bertanggung jawab atas konten yang dia buat untuk perusahaan. Konten dapat berupa desain grafis, video, animasi, ataupun sales letter. Selain itu content creator juga wajib berkomunikasi secara baik dengan timnya, seperti desainer, video editor, animator, copywriter, agar konten yang dibuat menjadi viral disenangi banyak orang.

Content Creator biasanya akan dibantu oleh administrator media sosial agar konten tersalurkan pada konsumen. Dan boom, menjadi viral.

Tentu saja content creator juga harus memiliki kemampuan membuat konten, bukan hanya sekedar ide.

Tiktoker

Meskipun admin percaya banyak dari kalian yang tidak senang akan pekerjaan ini. Tapi menjadi tiktoker adalah sesuatu yang cukup menggiurkan. Kamu hanya membuat konten yang terbilang cringe seperti joget-joget lalu akan mendapatkan uang dari TikTok.

Admin punya pengalaman bertemu dengan salah satu Tiktoker Jogja, dan ia berkata, ia digaji 2 juta perbulan untuk rajin upload TikTok. Jika kamu tidak mau kelihatan cringe, maka kamu bisa gunakan tema lain, seperti membuat video-video lucu dengan aplikasi tersebut.

Freelance Programmer

Programmer tidak harus bekerja di kantor. Cukup dengan laptopinternet dan akun GitHub atau GitLab maka programmer akan mendapatkan koneksi pekerjaan.

Kondisi Indonesia saat ingin Menerapkan Digitalisasi Pekerjaan

Indonesia adalah negara yang tergolong. Tercatat Indonesia adalah negara kelima terbesar pengguna internet di dunia, Maret 2019. Internet juga alasan orang Indonesia paling banyak menghabiskan waktunya. Sekitar 8 jam orang-orang Indonesia berada di internet. 

Sumber data RedSeer, mengatakan sekitar 37% warga Indonesia berencana meningkatkan penggunaan digital.  Dari sumber yang sama pula, e-commerce dan dompet digital jadi layanan digital yang paling banyak diakses. Namun, kita tentu tau, masalah utama Indonesia ketika menerapkan ini adalah biaya.

Sumber : databoks.kata.co.id

Proses digitalisasi dalam pekerjaan pendidikanpun, mengalami masalah. Masih banyak sekolah yang tidak punya akses internet dan listrik.

Sumber : databoks.katadata.co.id

Untuk itu bantuan pemerintah sangat diperlukan. Adanya layanan internet gratis, seperti layanan Telkomsel gratis kuota 30GB dan jadwal acara Tv (Television) pendidikan di TVRI, adalah langkah pemerintah yang patut kita apresiasi.

Namun, untuk menerapkan era digitalisasi pada Indonesia lebih jauh, perlu sosialisasi mendalam tentang apa itu digitalisasi, dampak, dan cara tepat menyikapinya.

Kesimpulan

Digitalisasi adalah era yang tidak mungkin kita bisa hindari. Itu adalah era yang harus kita terima dan kita sikapi dengan bijak. Era itu semakin kentara dengan adanya pandemi Covid-19. Banyak pekerjaan yang mustinya dilakukan secara tidak online menjadi online. Namun, beberapa negara justru tidak terganggu akan hal itu dan mengatakan bahwa ini adalah permulaan yang tepat untuk New Normal.

Untuk Indonesia, digitalisasi pekerjaan dapat dilakukan secara perlahan-lahan

sumber : di bawah

Aji, Rustam. “Digitalisasi, Era Tantangan Media (Analisis Kritis Kesiapan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Menyongsong Era Digital)”. Islamic Communication Journal Vol. 01, No. 01, Mei-Oktober 2016

Setiawan, Wawan. “Era Digital dan Tantangannya”. Seminar Nasional Pendidikan. ISBN.978-602-50088-0-1. 2017

entreprenuer.com, techrepublic.com, databoks.katadata.co.id

Hosting Unlimited Indonesia
Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *